Kemarin – kemarin ini kita dikejutkan adanya permainan pajak di tubuh Intitusi pajak itu sendiri. Berita ini sungguh membuat kita tercengang. Lembaga yang harus nya menjadi Inspirasi kita semua untuk memajukan negara kita ini justru malah membuat kita kecewa yang sangat besar. Negara ini yang salah satu pendapatan nasionalnya adalah lewat pajak ini ternyata sampai saat ini bermain di belakang kejujuran, walaupun tidak semua orang di lembaga pajak itu berbuat seperti oknum Gayus Tambunan.

apakah orang seperti Gayus itu tidak memikirkan negara ini, khususnya memikirkan orang yang benar – benar ingin membuat negara ini maju seperti Jepang. Saya selalu memikirkan orang yang bekerja untuk negara ini tapi ternyata mereka dikhianati oleh oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab. Apakah Gayus adalah orang pertama yang memonopoli uang pajak? Saya rasa tidak. Adanya iklan pajak di pertelevisian Indonesia yang salah satu isinya adalah “tidak bayar pajak, apa kata dunia?” membuat saya berfikir kembali bahwa untuk apa kita membayar pajak kalau ternyata uang kita bukan untuk negara ini, melainkan jatuh ke oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab.

Gambar di atas sangat menyentuh kita sekali, bahwa inilah kenyataan bahwa negara kita adalah negara yang sekarat. Semua orang sangat membenci perlakuan gayus yang membawa lari uang pajak.
inilah kira – kira kronologis kasus gayus :
INILAH.COM, Jakarta – Pegawai negeri sipil dari Ditjen Pajak Gayus Halomoan P Tambunan diputus bebas oleh PN Tangerang terkait kasus penggelapan dana sebesar Rp 25 miliar. Namun pihak kejaksaan tetap akan mengajukan kasasi terkait putusan tersebut.

Berikut kronologi kasus terdakwa Gayus:

Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) terdakwa Gayus Halomoan P Tambunan dikirim ke Kejaksaan Agung (Kejagung) oleh tim penyidik Mabes Polri.

Kemudian pihak Kejagung menunjuk 4 jaksa untuk mengikuti perkembangan penyidikan tersebut. Mereka adalah Cirus Sinaga, Fadil Regan, Eka Kurnia dan Ika Syafitri. Berkas perkara tersebut dikirim pada 7 Oktober 2009.

Di dalam SPDP, tersangka Gayus diduga melakukan money laundring, tindak pidana korupsi dan penggelapan. Analisa yang dibangun oleh Jaksa Peneliti melihat pada status Gayus yang merupakan seorang PNS pada Direktorat Keberatan dan Banding Dirjen Pajak kecil kemungkinan memiliki dana atau uang sejumlah Rp 25 Miliar pada Bank Panin, Jakarta.

Setelah Jaksa Peneliti menelusuri alat bukti perkara yang terdiri dari saksi-saksi, keterangan tersangka dari dokumen-dokumen dan barang bukti, ternyata berkas tersebut belum lengkap.

buat para petinggi di negara ini, tolonglah untuk berbuat kejujuran, karena kami sudah amat kecewa terhadap anda sekalian……terima kasih

(billy irian)