Ini adalah suatu pembodohan terhadap kesuksesan dan kemajuan masyarakat Indonesia. Bukan merupakan hal yang asing lagi bahwa para pemimpin kita itu “gila kekuasaan”. Itu sudah dibuktikan dengan adanya kasus di tubuh PSSI yang sangat mengganggu kemajuan persepakbolaan Indonesia. NH begitulah panggilan Nurdin Halid, terus berusaha untuk mempertahankan kekuasaannya untuk memegang kekuasaan penuh untuk menjadi Ketua Umum PSSI kembali. Inilah yang menjadikan mental Indonesia itu lemah dan patuh pada yang mempunyai uang. Sudah sewajarnya bila NH memberikan jabatannya kepada yang benar – benar ingin merubah persepakbolaan Indonesia ke jalur yang lebih baik lagi.

Di bawah ini adalah berita yang bersumber dari goal.com :

Bagi seorang jurnalis sepakbola, sulit menampik godaan membaca dan membeli buku Dosa-Dosa Nurdin Halid (DDNH) terbitan Galang Press yang diluncurkan persis di tengah kisruh pencalonan ketua umum PSSI periode 2011-2015.

Penulis DDNH adalah Erwiyantoro. Seorang jurnalis senior — yang juga pernah menulis untuk GOAL.com Indonesia — dengan riwayat mewartakan sepakbola sejak 1985. Dalam kata lain, mas Toro, sapaan akrabnya, sudah bergulat di dunia sepakbola nasional sebelum rata-rata mahasiswa S-1 saat ini sempat mengenal dunia.

DDNH bisa dibilang menjadi buku pertama yang merangkum akun Facebook individu. Hampir seluruh isi buku diambil mentah-mentah dari akun indivudu penulisnya, dengan nama samaran Cocomeo Cacamarica. Di kalangan pengguna social media, akun tersebut sangat dikenal menjadi salah satu acuan tersendiri bagi penggemar sepakbola Indonesia karena sangat informatif dan isi tulisan-tulisannya jarang ditemukan di media massa “besar”.

Seluruh tulisan dari akun tersebut diambil sepanjang 2010. Dibentangkan dalam riwayat sepakbola nasional, rentang DDNH mencapai momen Kongres Sepakbola Nasional hingga kelahiran Liga Primer Indonesia. Dari titik ini saja, DDNH sudah mewakili sebuah periode dalam sejarah panjang sepakbola tanah air.

Mas Toro membuka bukunya dengan memperkenalkan Nurdin Halid. Seharusnya tidak perlu diperkenalkan lagi siapa, tapi penting bagi pembaca diingatkan tentang sepak terjang pria kelahiran Watampone, 52 tahun lalu itu. Mas Toro memilihkan riwayat Nurdin ketika tersangkut kasus penyalahgunaan dana distribusi minyak goreng semasa Nurdin menjabat ketua umum Induk Koperasi Unit Desa (Inkud) pada 2005. Dua tahun masa penjara pun harus dijalani Nurdin yang sudah menjabat sebagai ketua umum PSSI saat itu.

Tak hanya sekali, masih pada tahun yang sama, Nurdin juga dinyatakan bersalah karena memasukkan gula impor secara ilegal. Namun, tuntutan itu dibatalkan dan Nurdin diputus bebas di akhir tahun. Pada 17 Agustus 2006, Nurdin menerima remisi dan bebas dari kungkungan bui.

Penjesalan singkat sepanjang lima halaman itu menjadi kunci pembuka buku setebal 274 halaman ini. Dua vonis kepada ketua umum PSSI itu otomatis menggugurkan tiga elemen penting yang harus dimiliki seorang pemimpin dengan visi yang jelas. Tiga elemen tersebut adalah karakter, kompetensi, dan koneksi. Berasarkan tiga hal itu, PSSI membutuhkan figur selain Nurdin Halid untuk memajukan sepakbola nasional.

Ketika menulis, mas Toro memposisikan dirinya sebagai “wartawan Facebook”. Keunggulan status ini menjadikan DDNH sarat dengan informasi di belakang layar, seperti perkenalan Nurdin Halid dengan Nirwan Bakrie; sampai campur tangan mantan Presiden Soeharto dalam penunjukan Ketua Umum PSSI.

Namun, pembaca harus pandai menempatkan diri. Karena sifatnya independen, prinsip cover both sides story praktis diabaikan. Sikap kritis harus tetap dipegang ketika membaca. Di satu sisi, terkesan buku ini menjelek-jelekkan — bahkan sangat memojokkan — figur Nurdin Halid.

Tetapi, mas Toro tidak risau. Seperti ketika menerbitkan dan membagi secara gratis buku “Sepakbola Indonesia Tertinggal 50 Tahun” saat Kongres Sepakbola Nasional berlangsung, meski dituding menyebar black campaign, mas Toro pantang mundur dan mempersilakan jika PSSI hendak menyomasinya. Tampaknya sikap yang sama tetap dipegang beliau ketika menerbitkan DDNH.

Di tengah minimnya tema olahraga di dunia perbukuan nasional, buku ini seperti satwa langka. DDNH layak dimiliki sebagai salah satu referensi dalam lemari buku pembaca. Gaya penulisan membuat DDNH bisa dibaca kapan saja dan dimulai dari halaman mana saja.

Sayangnya, pemindahan materi dari Facebook ke format buku dilakukan dengan penyuntingan yang sangat minim. Jangan heran mendapatkan banyak kesalahan ejaan dalam buku. Bahkan ada pula format Facebook yang dibiarkan melekat di halaman buku, seperti fitur “lihat selengkapnya” yang acap kali terpasang di boks komentar laman jejaring sosial itu.

Terakhir, mas Toro membagikan lima syarat menurunkan Nurdin Halid yang dibeberkan satu persatu. Pertama, melalui campur tangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kedua, melalui Nirwan Bakrie yang dianggap satu-satunya figur internal PSSI yang dapat memaksa Nurdin turun dari jabatan.

Ketiga dan keempat, membangun PSSI tandingan dan melalui Kongres PSSI. Syarat kelima? Tampaknya harus ditanyakan langsung kepada mas Toro…

DDNH sampai pada sebuah kesimpulan, paling baik menurunkan Nurdin adalah dengan mendekati Nirwan Bakrie. Melihat perkembangan situasi terkini jelang Kongres PSSI, hanya skenario itu yang belum mendekati kenyataan di antara empat syarat lainnya.